Kamis, 22 Desember 2011 - 12:38:57 WIB
PELATIHAN TANGGAP DARURAT BENCANA BANJIR JOYOSURAN
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Tanggap Bencana
- Dibaca: 58 kali
![]() | Masyarakat harus dilibatkan secara aktif dalam tanggap bencana. Salah satunya adalah dengan simulasi penyelamatan korban banjir, diharapkan dengan simulasi yang dilakukan terus-menerus, masyarakat akan siap menghadapi banjir yang mengancam daerahnya. Nampak sebuah simulasi seorang tim SAR (Mas Yatno) sedang menyelamatkan salah seorang korban banjir di Sungai Bengawan Solo. |
Menurut data BNPB dalam kurun waktu 1815 -2011, di Indonesia banjir menempati ranking 1 bencana yang paling sering terjadi yaitu sebanyak 3.450 kali. Dari kejadian sebanyak itu Banjir menempati ranking 3 dalam jumlah korban jiwa sebanyak 18.427 jiwa, berada di bawah gunung berapi 78.598 jiwa dan gempa bumi/tsunami sejumlah 167.768 jiwa. Dalam kurun waktu yang sama bencana gunung meletus hanya terjadi sejumlah 106 kali sedangkan gempa bumi/tsunami melanda Indonesia sebanyak 9 kali.
Mengapa banjir yang kejadiannya bisa diperkirakan tetap saja menjadi ancaman terbesar ke 3 bagi bangsa Indonesia? Hal ini terjadi karena skala dan kekuatan banjir semakin lama semakin sulit diprediksi. Manusia hanya mampu memprediksi bahwa kalau musim hujan pasti ada potensi munculnya banjir. Tetapi tidak dapat memperkirakan dengan pasti skala/luasan daerah terdampak baik langsung maupun tidak langsung dan jumlah korban yang ditimbulkan.
Selain itu di sisi pemerintah juga belum sepenuhnya bisa membuat rencana kontijensi (yang salah satu bagiannya adalah kesiap-siagaan) yang menyeluruh untuk daerah-daerah yang rawan bencana, sehingga ketika muncul ancaman selalu saja pemerintah kewalahan menghadapinya dan kerugian benda maupun korban jiwa semakin parah. Dari data ini dapat dilihat bahwa meskipun banjir merupakan bencana yang dapat diperkirakan kejadiannya namun tetap saja merupakan ancaman yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia.
MDS selaku lembaga yang bergerak di bidang pengembangan perdamaian, pelestarian lingkungan dan tanggap bencana merasa perlu untuk mengajak masyarakat yang berisiko tinggi terhadap ancaman bencana dan semua pemangku kepentingan lainnya untuk menjalin kerjasama dalam jaringan peduli bencana di daerah masing-masing, supaya membuat perencanaan kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana secara spesifik sesuai dengan ancaman bencanannya.
Itulah sebabnya, sebagai langkah awal MDS mengajak Tokoh masyarakat dan anggota masyarakat di Joyosuran untuk melakukan pelatihan bersama dalam membuat perencanaan tanggap darurat menghadapi bencana banjir. Diharapkan ke depan dengan pelatihan tanggap darurat berdasarkan ancaman bencana yang sesuai konteks daerah masing-masing, MDS akan menjalin kerjasama dengan organisasi lain dalam berjejaring menghadapi bencana bersama-sama.
Langkah awal tersebut dimulai pada tanggal 16 dan 18 Desember 2011. Pelatihan ini dilaksanakan berdasarkan kerjasama antara MDS, FKPI (Forum Kemanusiaan dan Persaudaraan) Solo dan FKJW (Forum Komunitas Warga Joyosuran) Solo. Materi pelatihan meliputi Pengantar Diakonia Tanggap Bencana, Manajemen Tanggap Darurat, Pelatihan PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat), Pelatihan Team SAR Banjir, Pelatihan PPP (Pertolongan Pertama Phiskologis) dan Pengelolaan Tempat Penampungan Sementara. Pelatihan dilaksanakan di dua tempat yaitu di Pendopo Kelurahan Joyosuran dan Sungai Bengawan Solo untuk praktek simulasi PPGD Banjir danPelatihan Team SAR Banjir.
Peserta dari pelatihan ini adalah tokoh masyarakat, pemuda dan tokoh Ibu-ibu di Kelurahan Joyosuran. Peserta sangat antusias sekali dalam mengikuti pelatihan ini, hal ini ditandai dengan jumlah peserta pelatihan yang mencapai lebih dari 30 peserta dan keinginan warga untuk diadakan pelatihan lagi untuk masa-masa yang akan datang.
.
