Perdamaian »
Tanggap Bencana »
Lingkungan Hidup »
Kemandirian Lembaga »
Jejaring »
Cerita »

English Version

Kamis, 27 Oktober 2011 - 14:47:45 WIB
Bantuan Air Bersih untuk Wonogiri
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Jejaring - Dibaca: 67 kali


Karena sangat membutuhkan air, warga Dusun Mulwosari, Desa Jati Rejo, Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri, berbondong-bondong mengambil air bantuan.


Kemarau panjang yang melanda di Indonesia tahun 2011, ini sudah berlangsung sekitar 9 bulan, dimulai sejak bulan Februari 2011. Seperti biasanya, kemarau panjang selalu membawa dampak yang sangat merugikan bagi kalangan petani, terutama di pedesaan. Mulai dari pola tanam yang terganggu, gagal panen sampai ketersediaan air untuk kebutuhan dasar juga terganggu.

Kondisi ini hampir dirasakan oleh seluruh wilayah Indonesia, hanya saja tingkat penderiataan (kekeringan) di setiap wilayah berbeda-beda tergantung dari ketersediaan sumber air atau tidak di wilayah tersebut. Di banyak wilayah di pulau Jawa, setiap kali kemarau panjang terjadi, selalu diiringi dengan datangnya "bencana" kekeringan.

Salah satu wilayah yang menderita kekeringan tahun 2011 tersebut adalah daerah-daerah yang termasuk di daerah Kabupaten Wonogiri, terutama sekali daerah-daerah yang termasuk dalam Kecamatan di Wonogiri bagian selatan. Seperti Kecamatan Giri Tontro dan Parang Gupito.

Menurut penuturan dari Bapak Martoyo, warga di beberapa desa di Kecamatan Giri Tontro, sangat menderita ketika kemarau panjang terjadi. Beberapa warga sudah banyak yang menjual ternak untuk membeli air. Jumlah warga yang membeli air tangki berbeda-beda, tergantung jumlah keluarga dan ternak yang dimiliki. Sejak bulan Februari 2011 ada yang sudah membeli 5 sampai 7 tangki dengan harga setiap tangki sekitar Rp. 100.000,00 sampai dengan Rp. 120.000,00. Pak Martoyo yang merupakan Kepala Dusun Jati Rejo, Giri Tontro, merasa beruntung karena tinggal di daerah yang dekat dengan mata air. Meskipun sangat terbatas tetapi mata air tersebut masih bisa digunakan oleh warga untuk kebutuhan primer sehari-hari tanpa harus membeli.

Senada dengan Bapak Martoyo, Bapak Jumino seorang Kepala Dusun di Dusun Johunut Desa Johunut Kecamatan Parang Gupito, juga menuturkan hal yang memprihatinkan. Mayoritas warganya yang berjumlah sekitar 50 KK, juga mengalami penderitaan pada saat kekeringan. Beberapa warga mencoba untuk meringankan penderitaan tersebut dengan berlangganan air dari PDAM tetapi sering macet dan tidak bisa diandalkan. Rata-rata tiap KK di Dusun yang dipimpinnya dari awal kemarau -sekitar Februari 2011- sampai saat ini telah membeli air sekitar 6 tangki. Bahkan bagi keluarga yang memiliki jumlah anggota dan ternak lebih banyak ada yang sudah membeli sampai 7 tangki. Air tersebut bukan hanya digunakan untuk kebutuhan anggota keluarga, tetapi juga untuk ternak-ternak mereka. Harga untuk setiap tangki bisa mencapai harga Rp. 140.000,00 tergantung jaraknya dengan lokasi sumber air. Bagin warga yang mempunyai penghasilan tetap hal ini tentu saja masih terjangkau, tetapi bagi warga pedesaan yang pekerjaannya hanya mengandalkan penghidupan dari petani penggarap dan petani di areal tadah hujan, jelas sangat kekeringan ini merupakan "bencana" tersendiri.

Melihat kondisi demikian MDS (Mennonite Diakonia Service) Sinode GKMI, bekerjasama dengan Lekas (Lembaga Kemanusiaan Surakarta) - GKJ Klasis Surakarta dan Forum Kemanusiaan dan Perdamaian Indonesia mencoba untuk meringankan penderitaan masyarakat di Kecamatan Giritontro dan Parang Gupito tersebut dengan bantuan pengiriman air bersih. Pada tahap awal, Bersama dengan ke dua lembaga tersebut, MDS akan memberikan bantuan sejumlah 15 tangki (masing-masing lembaga 5 tangki) untuk sekitar 925 KK/2.766 jiwa yang tersebar 13 pedusunan di daerah-daerah di 2 kecamatan.

Mulai tanggal 5 Oktober 2011, MDS, FKPI dan telah menyalurkan bantuan 1 tangki air (sekitar 5.000 liter) di salah satu Pedukuhan di Kecamatan Parang Gupito, yaitu di Dusun Johunut yang didiami oleh sekitar 50 KK sekitar 300 jiwa.

Program darurat ini diharapkan akan menjadi entry point bagi program-program selanjutnya yang lebih bersifat reformatif atau bahkan transformative dari hanya sekedar program karitatif. Program tersebut berupa pendampingan terhadap masyarakat yang menjadi langganan bencana kekeringan untuk mencari alternatif-alternatif lain di samping hanya pasrah pada "bencana" kemudian menunggu bantuan dari luar agar masyarakat sendiri mampu bangkit untuk menemukan akar permasalahan, mencari solusi dan mengatasi masalah.


Share ....

.




0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



Pelatihan Pelayanan Pemulihan Trauma untuk Hamba Tuhan
• 22 Agustus 2011

Pelatihan Pendampingan Psikologi Pada Anak untuk Guru Sekolah Minggu
• 16 Agustus 2011



Apa yang paling mungkin Anda lakukan untuk membantu Pelayanan MDS Indonesia?

Persembahan Dana
Membantu Tenaga
Membantu Pemikiran
Berdoa

Result